Welcome to Gaia! ::

Reply Kamar Seni & Entertainment -- Diskusi & Pameran (bukan untuk dagang!)
Fanfiction sama Cerpen Indonesia

Quick Reply

Enter both words below, separated by a space:

Can't read the text? Click here

Submit

i_period_i

PostPosted: Mon Sep 21, 2009 2:09 am


Berhubung ini adalah Kamar Seni & Entertainment, gue mikir kenapa kita nggak bikin forum khusus fanfiction dan cerpen dalam bahasa Indonesia??

Ntar juga pasti ada yang ngasih komentar/nasihat apa karya yang dibikin uda bagus atau gak biggrin

Kalo ada yang berminat mengepos fanfic/cerpennya silahkan ngepos disini
Jangan lupa bikin link-nya kalau cerita itu udah pernah dipost di situs lain smile
Yang lain kalau mau kasih review/komentar juga silahkan post disini (tapi jangan sampai bertengkar sama authornya gara-gara nge-flame cerita dia ya biggrin )

Terakhir, selamat menulis!! biggrin


n.b.
1. kalau mau bikin fanfic usahain bikin kategorinya lengkap-lengkap. Misalnya: anime/gamenya, character-characternya, genrenya, dan yang paling penting ratednya (K, K+, T, dan M).
2. setiap orang yang meninggalkan komentar harus bikin judul dan penulis yang akan dikomentari, supaya forum ini nggak kacau.
3. setiap penulis yang ingin membalas komentar dari pembaca, harap menulis nama orang yang mengomentari tersebut agar jelas pesan itu untuk siapa.
4. tidak ada orang yang sempurna. jadi ketika anda ingin meninggalkan komentar kepada si penulis, usahakan menggunakan kata-kata yang pantas. mengkritik memang dianjurkan, namun lakukanlah dengan etika yang benar.
5. bagi penulis yang di-flame, jangan terbawa emosi. usahakan membalas komentar itu sebaik mungkin, jangan sampai membalasnya dengan kata-kata yang tidak baik pula. ada yang menganggap karya anda buruk? jangan berkecil hati. semua orang memang bisa menulis namun tidak semua orang mampu membuat sebuah fanfic ataupun cerpen seperti anda. keberanian itu sendiri tidak ternilai harganya.
6. terakhir, hargailah orang lain. jangan mentang-mentang anda sudah menulis ratusan cerpen lalu merendahkan cerpen orang lain. kita semua manusia yang diciptakan Tuhan. kita semua sama disini. tidak ada yang lebih baik atau yang lebih buruk. hargailah orang lain, dan anda pun akan dihargai.
PostPosted: Mon Sep 21, 2009 2:25 am


oke!! sebagai pembuka gue mau mengepos salah satu fanfic harvest moon gue yang udah pernah dipublished di fanfiction.net. ini link-nya: http://www.fanfiction.net/s/5163030/1/The_Chemistry_of_Death

Kategorinya :
Game : Harvest Moon
Rated : T
Genre : Crime/Tragedy
Character : Claire

The Chemistry of Death

“Nah, Claire, coba ceritakan bagaimana kau melihat jenazah itu.”

“Sudah kubilang, Pak Mayor, aku menemukannya tanpa sengaja!” Claire mengepalkan tinjunya.

“Coba ceritakan secara lebih detail,” pintanya lagi.

Claire menghela napas kesal, perlahan menceritakan kejadian tadi siang.

Flashback

Claire keluar dari gua dengan ransel yang penuh berisi logam-logam yang baru saja ia temukan. Ia singgah sebentar di hotspring sambil merilekskan otot-otot tangannya yang kaku. Setelah merasa puas, ia bangkit untuk pulang, namun belum sampai di rumah ia teringat kalau persediaan rumput herbalnya sudah menipis.

Ia pun berbalik arah menuju Mother’s Hill untuk mengumpulkan rumput-rumput yang tumbuh disana. Saat sedang mengumpulkan itulah, ia melihat sesuatu di balik semak-semak di dekatnya. Perlahan ia mendekati siluet itu dan luar biasa terkejut saat menyadari bahwa siluet itu adalah sebuah mayat. Ia lebih terkesiap ketika melihat mayat itu seseorang yang ia kenal.

Tanpa membuang waktu, ia berlari menuruni bukit terus ke Inn. Ia menghambur masuk, mengagetkan semua orang yang sedang asyik bersantai disana. Dengan panik ia mencari Harris di antara kerumunan orang-orang itu, namun ia tidak melihatnya. Seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya.

“Siang, Claire, mau pesan apa?”

Senyum ramah Ann tidak mampu membuatnya tenang. Ia harus segera melapor, pikirnya.

“Ha-Harris mana?” tanyanya dengan nafas terengah-engah.

“Hee? Harris? Dia duduk disana,” Ann menunjuk tempat paling pojok dimana Harris duduk sendirian. Claire bergegas menghampirinya.

“Harris, ada mayat di Mother’s Hill!” lapornya setengah berbisik, tidak ingin orang lain yang ada disana mendengarnya kemudian panik.

Harris menatapnya dengan tatapan kaget yang tidak dibuat-buat, kemudian ia bangkit berdiri.

“Di mana?” tanyanya cepat.

“Ikut aku!” kata Claire sambil keluar dari Inn.

* * *

“Itu... Kai, kan?” tanya Claire pelan setelah mereka sampai disana.

Harris mengangguk. “Aku akan memberitahu Ayah. Kau tunggu saja disini.”

Claire mengangguk, melihat Harris pergi meninggalkannya bersama Kai yang sudah tidak bernyawa. Tubuh itu tertelungkup diatas tanah dengan posisi yang aneh. Vitruvian Man, pikir Claire getir.

Lima menit menunggu, Mayor dan Harris sampai di tempat itu. Mayor spontan membentuk tanda salib di dadanya begitu melihat tubuh itu.

“Kai, demi Tuhan,” gumamnya.

“Harris, tolong hubungi Zack agar ia bisa membawa jenazah ini ke gereja.”

“Kalian tidak akan mengotopsinya dulu?” tanya Claire.

Mayor menatapnya seakan ia baru saja menyuruh mereka membakar mayat itu.

“Jangan konyol, Claire, kami tidak punya peralatan secanggih itu disini.”

Giliran Claire yang menatapnya tak percaya.

“J-Jadi kalian akan langsung menguburkannya tanpa memeriksanya terlebih dahulu? Bagaimana kalau ternyata ia dibunuh?”

Mayor menatapnya prihatin. “Kalau benar, kita hanya bisa mencoba mencari pembunuhnya secara random.”

Claire terdiam, bersumpah serapah di dalam hati, mengutuk betapa terpencil dan miskinnya Mineral Town.

End of Flasback

“Jadi menurut anda siapa pelakunya?” tanya Claire, bosan karena dari tadi ia terus ditanyai.

“Entahlah, Harris sedang menanyai para penduduk sekarang, semoga itu memberi petunjuk pada kita siapa pembunuhnya.”

“Pak Mayor, kalau boleh, aku ingin membantu,” kata Claire.

Mayor berbalik dan menatapnya dengan tatapan apa-yang-bisa-kau-bantu?

“Aku... aku dulu pernah jadi antropolog forensik.”

Mayor tampak bingung. “Antro―?”

“Antropolog forensik. Aku bisa mengira-ngira kapan seseorang dibunuh dan bagaimana ia dibunuh. Tapi itu sudah lama sekali kulakukan.”

Mayor menatapnya takjub. “Tentu! Kau boleh membantu penyelidikan ini, Claire! Aku akan memberitahu Harris bahwa kau juga ikut, dan juga Carter, agar kau bisa memeriksa jenazah Kai di gereja.”

Claire tersenyum masam. Siapa sangka keahliannya yang luar biasa itu kembali ia pakai setelah lima tahun dipendam begitu saja?

“Trims, Pak Mayor. Kalau begitu aku akan mulai bekerja.”

Claire melihat Mayor mengangguk, kemudian ia keluar dari rumah Mayor dan kembali berjalan ke Mother’s Hill.

* * *

Claire kembali tersenyum lemah, syukurlah Mayor tidak bertanya mengapa ia selama ini menyembunyikan jati dirinya dulu sebagai antropolog forensik kepada penduduk sini, karena itu bukanlah sesuatu yang akan dengan senang hati ia ceritakan.

Ia berjongkok, melihat tempat dimana mayat Kai berbaring tadinya. Bau amonia spontan menyengat hidungnya, namun ia terlalu sibuk memperhatikan rumput-rumput yang menghitam, mencetak bentuk tubuh yang tadinya ada di atasnya.

Claire sibuk mencari-cari serangga yang kira-kira ada, namun ia tidak menemukan satupun. Kemudian ia beranjak ke rumput-rumput yang menghitam. Warna hitamnya rata, gumamnya dalam hati.

Setelah puas dengan apa yang ia temukan, Claire beranjak ke gereja. Disana ia disambut Pastor Carter yang melihatnya dengan tatapan prihatin. Dengan enggan Claire mengangguk ketika si pastor menyatakan dukacitanya, kemudian ia langsung menuju jenazah itu sebagai tanda kalau ia sedang tidak ingin mengobrol.

Carter tampaknya mengerti dan membiarkan Claire bekerja. Claire mengamati jenazah itu lekat-lekat. Ada beberapa belatung yang menggeliat di sekitar wajah dan tangannya namun tidak banyak.

Ia kemudian mengamati tubuh itu secara keseluruhan. Tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik, namun memar di leher Kai menarik perhatiannya. Ia bolak-balik melihat memar itu sebelum akhirnya menarik kesimpulan yang akan ia laporkan pada Mayor besok. Setelah pamit pada Carter ia beranjak ke rumahnya sendiri untuk beristirahat.

* * *

“Siang, Pak Mayor,” sapa Claire begitu masuk ke rumah si walikota.

“Siang, Claire. Mau teh?” tanya Mayor.

“Tentu,” kata Claire riang sambil duduk di kursi tamu. Mayor meletakkan teh itu di meja kemudian duduk di seberangnya.

“Begini, Pak Mayor, kemarin aku sudah melihat TKP dan jenazah Kai di gereja, juga sudah membuat satu kesimpulan yang kurasa penting untuk dilaporkan pada anda.”

Mayor mengangguk antusias, isyarat bagi Claire untuk melanjutkan laporannya.

“Aku menyimpulkan bahwa kematian Kai berkisar satu sampai dua hari sebelum ia ditemukan, karena di TKP tidak terdapat lalat hijau dan lalat biru, yang biasanya muncul apabila ia sudah mati lebih dari tiga hari. Selain itu, di tubuh Kai hanya terdapat sedikit belatung, yang artinya pembusukan tubuhnya masih belum sempurna. Kemudian, aku yakin kalau ia dibunuh dengan tangan kosong, tanpa senjata, karena rumput di TKP menghitam secara merata, artinya tidak ada darah yang diserap tanah, juga di sekujur tubuh mayat tidak terdapat bekas luka yang mungkin menjadi penyebab kematian. Namun ada bekas memar di sekeliling leher, yang membuatku semakin yakin kalau Kai dibunuh dengan cara dicekik.”

Claire menyeruput tehnya, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering setelah menjelaskan kesimpulan yang ia dapat kemarin.

“Begitu, ya,” gumam Mayor.

Claire hanya diam, tidak tahu harus berkata apa.

“Terimakasih atas kerjasamamu, Claire, kau tidak tahu betapa berharganya informasi ini untuk kami. Aku akan memberitahu Harris secepatnya.”

Claire tersenyum. “Sama-sama, Pak Mayor. Kuharap pelakunya segera ditangkap.”

Mayor mengangguk setuju. Claire menghabiskan tehnya kemudian pamit untuk pergi ke hotspring sambil berusaha merilekskan pikirannya. Tanpa sadar ia tertidur dan baru bangun ketika malam tiba. Ia terkejut melihat sekelilingnya gelap dan bulan sudah muncul di langit.

Ia bangkit dan mengenakan pakaiannya kemudian berjalan ke rumah. Ketika hendak membuka pintu, ia melihat sesuatu tersangkut di bawahnya. Secarik kertas. Ia mengambilnya dan membaca isinya perlahan. Matanya melebar begitu sadar siapa pengirim surat itu. Ia pun berjalan cepat ke Mother’s Hill.

* * *

Ia sampai disana dengan nafas terengah-engah, sibuk mencari seseorang yang mungkin ada disana. Matanya terpaku pada sosok yang berdiri membelakanginya di pinggir bukit yang terjal.

Baju itu, pikir Claire.

“Ha...rris?”

Ia menoleh. “Claire.”

“Ke... kenapa kau...”

“Aku yang membuat surat itu.”

Claire termangu. “Artinya...”

“Ya, aku yang membunuh Kai.”

“Ke... kenapa?” bisiknya parau.

Harris menunduk, kemudian menatap Claire lemah.

“Ceritanya panjang, Claire,” ia menghela napas pelan, “semuanya dimulai ketika aku mengirim surat cinta pada Aja, perempuan yang kusukai sejak lama, putri Duke dan Manna. Di surat itu aku mengutarakan perasaanku padanya. Namun di dalam surat balasannya yang kuterima, ia tidak bisa menerima perasaanku, karena ia sudah mempunyai pacar disana bernama Kai. Aku langsung terkejut, karena setahuku Kai juga berpacaran dengan Popuri. Karena itu, saat Summer Kai datang kesini, aku langsung menanyainya, mana yang sebenarnya lebih ia sukai. Sambil tertawa ia berkata kalau seorang cowok keren tidak dibatasi hanya boleh memiliki satu pacar, apalagi pengembara seperti dia yang terus berkeliling tiap musimnya. Singkatnya, Aja adalah pacarnya saat ia singgah di kota itu, dan Popuri adalah pacarnya saat Summer disini. Mendengarnya, aku langsung naik pitam dan memaksanya untuk memilih salah satu cewek saja dan memutuskan yang lain. Namun ia tetap tidak mau dan mengatakan kalau itu semua bukanlah urusanku. Darahku semakin mendidih melihat tingkahnya dan aku, yah... kau tahulah.”

Tidak, aku tidak tahu! teriak Claire dalam hati.

“Lalu, surat itu?”

“Kudengar dari Ayah kau adalah seorang antropolog forensik yang bisa mengidentifikasi mayat, Ayah juga sudah menceritakan kesimpulanmu setelah melihat jenazah itu. Luar biasa, Claire, benar-benar tepat.”

Claire menelan ludah. Haruskah ia bangga karena ia masih memiliki kemampuan itu atau haruskah ia cemas karena si pembunuh sekarang ada di hadapannya?

“Karena itu aku ingin menceritakannya padamu, karena aku tahu, cepat atau lambat kau akan segera tahu pelakunya. Tapi kurasa semuanya sudah berakhir sekarang,” kata Harris sambil tersenyum masam.

Claire baru akan bertanya apa maksud kata-katanya barusan ketika ia melihat Harris berjalan ke pinggir bukit dan bersiap melemparkan tubuhnya ke jurang.

“Harris!” panggilnya sambil berlari menggapai si polisi, ia berhasil meraih tangannya.

“Lepaskan aku, Claire! Biarkan aku mati!”

“Tidak! Aku tidak akan membiarkannya! Sudah cukup satu temanku saja yang mati! Sadarlah, Harris, tidak ada gunanya kau bunuh diri!”

“Aku sudah tidak punya kehidupan lagi, Claire, apalagi yang bisa kulakukan?”

“Kau salah! Kehilangan Aja bukan berarti kau juga kehilangan hidupmu! Masih ada Mayor yang sayang padamu, dan kami, penduduk Mineral Town yang peduli padamu, Harris!”

Claire meringis, tangannya yang memegang tangan Harris terasa sakit karena harus menahan tubuh si polisi dari tadi.

“Terima kasih, Claire, tapi aku sudah memutuskan,” ia tersenyum lemah, “selamat tinggal.”

Ia melepas tangannya dengan sengaja dari genggaman Claire. Claire melihat dengan ngeri Harris terjun ke jurang di bawahnya, ke dalam hutan yang dipenuhi pohon-pohon pinus.

Air mata jatuh perlahan menuruni pipinya yang pucat. Sebelum ia sadari ia meneriakkan nama Harris dan terduduk lemas.

* * *

Claire menatap nisan di depannya dengan mata sayu. KAI ANDERSON, begitu yang tertulis di batu itu. Ia bingung, haruskah ia menangis untuk Kai yang jelas-jelas dibunuh, atau haruskah ia menyalahkannya, karena ke-playboy-annya sudah menyebabkan dua orang meninggal?

Ia menghela napas pelan. “Kuharap kalian tenang di alam sana,” katanya pada nisan Kai dan Harris yang berdampingan, lalu meletakkan bunga magnolia di atas nisan keduanya.

Ia berbalik, berjalan pelan ke arah Poultry Farm. Ia sudah bertekad, ia akan memberitahu Popuri apa yang sebenarnya terjadi, agar ia tidak lagi menangisi pacar playboy-nya itu, agar ia tahu alasan mengapa Harris membunuh Kai.

Dengan begitu, kematian Harris tidak akan sia-sia, pikirnya, tidak akan.

* * *

silahkan kasih komentar kalau mau smile

i_period_i

Reply
Kamar Seni & Entertainment -- Diskusi & Pameran (bukan untuk dagang!)

 
Manage Your Items
Other Stuff
Get GCash
Offers
Get Items
More Items
Where Everyone Hangs Out
Other Community Areas
Virtual Spaces
Fun Stuff
Gaia's Games
Mini-Games
Play with GCash
Play with Platinum